Aneka Top 10

Ikuti

Iklan

10 Kelebihan Anak Kecil yang Tak Dimiliki Orang Dewasa

Bagikan

Waktu masih kecil, banyak dari kamu yang ingin segera dewasa dan melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan ketika masih berusia muda. Namun memasuki usia dewasa, yang terjadi justru sebaliknya. Rutinitas dan tanggung jawab yang kita punya, membuat masa kanak-kanak terasa lebih menyenangkan dan menarik jika bisa terulang kembali.

Mungkin terdengar seperti kisah dalam dongeng Peter Pan, yang siap membawa anak-anak yang enggan menjadi dewasa ke dunia khayalan. Namun jika dipikir-pikir lagi, menjadi anak-anak memang memiliki beberapa kelebihan menarik, yang mungkin tidak kamu punya lagi ketika sudah menjadi dewasa.

Penasaran? Ini 10 kelebihan anak kecil dibandingkan orang dewasa.

1. Rasa ingin tahu

Rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu
Iklan

Salah satu kelebihan anak-anak dibanding orang dewasa adalah rasa ingin tahu yang amat besar terhadap berbagai hal. Kamu mungkin ingat sering menanyakan tentang benda atau apapun yang kamu temui di sekitar, sampai-sampai orang tuamu bosan menjawabnya. Hal tersebut sebenarnya cukup positif, karena menandakan minat belajar kita masih amat tinggi.

Bandingkan dengan saat kita dewasa. Rasa ingin tahu sedikit demi sedikit memudar dan bahkan menurun drastis. Tak jarang, kita sulit mengungkapkan pertanyaan secara terbuka di hadapan publik, jika ada yang terasa mengganjal. Hal ini tak mengherankan, mengingat munculnya anggapan umum bahwa orang yang banyak bertanya akan membuat dirinya sendiri terlihat bodoh.

2. Khayalan

Khayalan
Khayalan

Impian, angan-angan, fantasi, dan cita-cita. Hal-hal semacam ini begitu mudah kita umbar ketika masih menjadi anak-anak. Pernahkah kamu mendapat pertanyaan mengenai cita-cita atau profesi impian ketika masih kecil? Dengan mudahnya kamu pasti menjawab dokter, insinyur, arsitek, atau segudang profesi lain yang menarik dan menyenangkan dijalani. Tak jarang pula kamu membayangkan memiliki sebuah restoran atau perusahaan kelas dunia.

Namun ketika sudah menjadi dewasa, impian tersebut mulai terbentur dengan realita dan banyak yang berhenti mengejarnya. Kamu mungkin termasuk salah satu di antaranya. Padahal impian dan cita-cita justru bisa menjadi target yang memotivasi kamu untuk menggapai kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Iklan

3. Energi

Energi
Energi

Ingatkah bahwa ketika kamu masih menjadi anak-anak, kerap bermain dari pagi hingga larut malam? Tubuhmu seolah tak kehilangan energi. Kamu bisa terus beraktivitas, andai orang tua tak memanggil untuk sekadar mengingatkan makan, mandi, atau beristirahat karena hari sudah mulai malam. Bahkan tak sedikit anak yang sulit sekali untuk diam, atau disebut sebagai hiper aktif.

Hal ini rupanya juga bisa menjadi kelebihan, jika dibandingkan dengan kondisi yang kita alami ketika dewasa. Kita menjadi mudah lelah. Rutinitas kerja dari pagi hingga sore membuat kita tak lagi punya energi dan minat untuk melakukan aktivitas lain di waktu istirahat. Kebanyakan prioritas kita adalah untuk beristirahat. Pada akhirnya kehidupan kita seolah hanya dihabiskan untuk bekerja saja.

4. Ekspresif

Ekspresif
Ekspresif
Iklan

Ketika masih kecil, kamu bebas mengeluarkan ekspresi atau reaksi apapun, dan kebanyakan orang akan memaklumi karena kamu masih anak-anak. Jika kamu tidak suka dengan makanan A, maka kamu bisa menolak. Jika kamu tidak suka dengan pakaian atau penampilan B, kamu juga bisa langsung mengatakan jelek. Kamu juga tidak sungkan mengkritik sikap orang lain dalam pergaulan sehari-hari.

Namun tentu hal serupa tak bisa dilakukan lagi ketika kamu sudah menjadi dewasa. Ada norma-norma ketat yang mencegah kamu melakukan hal tersebut. Contohnya saja, mengritik atasan atau rekan kerja, yang bahkan mungkin usianya lebih muda dari kamu. Andai tak dilakukan dengan halus, bukan mustahil hal tersebut bakal membawamu pada situasi sulit yang berkepanjangan.

5. Kebebasan finansial

Kebebasan finansial
Kebebasan finansial

Mungkin tak ada banyak dari kamu yang sadar, bahwa ketika kamu masih kecil, kamu telah mengalami kebebasan finansial. Dalam artian, kamu tidak pernah memikirkan tentang uang sama sekali. Well, mungkin kamu pernah mendambakan punya uang yang tak terbatas untuk membeli mainan sebanyak mungkin, namun tentu uang tak menjadi motivasi utama kamu dalam menjalani hidup.

Hal sebaliknya terjadi ketika kamu dewasa. Kamu dituntut untuk hidup mandiri dan tidak lagi menggantungkan nasib pada orang tua, meski norma kehidupan di negara kita masih memberikan toleransi bagi mereka yang sudah bekerja untuk tetap tinggal di rumah oang tua. Uang pun jadi salah satu faktor yang menentukan perjalanan hidupmu, memaksamu bekerja keras sepanjang hari demi memastikan kamu bisa membiayai kebutuhan pokok dan gaya hidup.

Iklan

6. Prasangka

Prasangka
Prasangka

Ketika kamu masih kecil, dengan mudah kamu bisa bergaul dengan siapa saja. Meski dengan sosok yang baru dikenal, kamu tak butuh waktu lama untuk bisa mengakrabkan diri. Tak ada prasangka terkait ras, golongan, atau motivasi khusus di balik pertemanan tersebut.

Ketika beranjak dewasa, hal tersebut jelas tak bisa terjadi lagi. Dalam kerasnya kehidupan, seringkali kita dipaksa untuk berhati-hati dengan semua orang yang mencoba dekat dengan diri kita. Mau tidak mau, kita dipaksa berpikir lebih keras untuk menilai, apakah orang-orang yang dekat dengan diri kita benar-benar bisa dipercaya dan tidak akan merugikan kita di masa mendatang.

7. Makan

Makan
Makan
Iklan

Menjadi anak-anak berarti kamu masih berada dalam usia pertumbuhan dan hal tersebut membuatmu bebas melahap makanan apapun yang kamu inginkan. Mulai dari jajanan dengan rasa yang manis, gurih, dan lain sebagainya. Orang tuamu juga tidak lupa menyiapkan makanan bergizi, seperti ikan, daging, telur, sayuran dan lainnya.

Bagi orang dewasa, makanan menjadi salah satu masalah tersendiri. Bagi mereka yang mengejar penampilan dan postur ideal, ada beberapa makanan yang tidak bisa dinikmati dengan bebas, lantaran bisa mengakibatkan berat badan tak terkontrol. Tak jarang, ada juga yang sudah mulai menerapkan pantang; pantang makanan bersantan, makanan berlemak, dan lain-lain.

Hal tersebut dilakukan untuk menjaga gaya hidup sehat dan menghindari penyakit berbahaya seperti stroke, darah tinggi, atau kolesterol.

8. Belajar

Belajar
Belajar

Salah satu kelebihan yang kita punya kala masih kanak-kanak adalah daya belajar yang tinggi. Ibarat hard drive, otak kita masih tidak banyak dipenuhi dengan informasi dan jauh lebih cepat dalam menyerap pengetahuan baru yang datang dari pihak luar. Hal tersebut tentu amat memudahkan kita dalam mempelajari hal-hal baru.

Iklan

Hal yang sama mungkin masih kita miliki ketika dewasa. Tapi bisa jadi tingkat penyerapan informasi tersebut sudah mengalami penurunan. Tak mengherankan rasanya, jika dikatakan bahwa minat orang dewasa untuk belajar jauh lebih menurun jika dibandingkan ketika mereka masih anak-anak.

9. Bahagia

Bahagia
Bahagia

Jika banyak yang bilang bahagia itu sederhana, maka hal tersebut mungkin sebenarnya sudah sering kamu alami ketika masih menjadi anak-anak. Sebuah mainan robot-robotan atau rumah-rumahan mungkin sudah lebih dari cukup untuk menjadi sumber kebahagiaanmu untuk waktu yang cukup lama. Mainan seolah jadi sarana hiburan yang paling pas dan menyenangkan untuk mengisi waktu luang.

Ketika beranjak dewasa, hal-hal sederhana semacam itu mungkin sudah tidak cukup lagi untuk membuatmu bahagia. Ada berbagai macam keinginan dan gaya hidup yang bisa jadi sulit untuk kamu gapai dan hal itu membuat kamu mulai merasa bahwa kehidupan yang kamu jalani tak menyenangkan lagi.

10. Berani

Berani
Berani

Mungkin tak sedikit dari kamu yang merasa takut untuk tidur atau pergi ke kamar mandi sendirian ketika masih kecil. Namun jika diminta menunjukkan bakat yang kamu punya di depan kelas atau kerabat terdekat, kamu tidak akan takut sama sekali. Kamu dengan bangga menunjukkan kepiawaiannmu dalam menghitung, bernyanyi, menghafalkan teks Pancasila, atau lainnya.

Sementara ketika menginjak dewasa, keberanian tersebut tak jarang hilang begitu saja. Kamu seolah sulit mengungkapkan pendapat ketika berada di ruang publik. Tak jarang ada lebih banyak di antara kamu yang lebih memilih diam jika memiliki opini bersebrangan atau merasa memiliki kemampuan lebih, untuk menghindari akibat buruk yang mungkin bisa terjadi akibat inisiatifmu tersebut.

Iklan

Bagikan

Terkait

Iklan

Terbaru

Iklan